HOMESCHOOLING TODDLER: The Day Atala discover "green"
HOMESCHOOLING TODDLER:
The Day Atala discover "green"
Setelah beberapa bulan mengetahui info mengenai homeschool, banyak hal yang bisa saya dapatkan. Saya menjadi begitu bersemangat untuk melakukan homeschool tapi terus terang, awal saya bersemangat untuk homeschool ternyata terkotak menjadi pengenalan angka, huruf, warna, dan bentuk pada anak saya, Atala (2tahun). tapi seiring dengan berjalannya waktu, pemahaman saya tentang homeschool semakin terbentuk, dan hasilnya luar biasa. Saat ini, segala sesuatu yang berkaitan dengan anak saya, menjadi begitu bermakna. Dengan adanya faham homeschool, setiap tingkah lakunya saya lihat sebagai pembelajaran dia sebagai manusia baru. setiap kebersamaan kami adalah pembelajaran. apapun yang dia lakukan adalah kegiatan belajar.
Sudah 5 bulan ini, atala saya titipkan di daycare. Disana disediakan mainan, buku, dan alat tulis buat anak-anak melakukan aktivitasnya sampai dijemput kembali oleh orangtua. Sifatnya informal, dan hanya mengisi waktu saja. Tapi mungkin itu sebabnya, ibu saya lebih suka mengatakan bahwa atala pergi ke sekolah. Mungkin karena ibu saya melihat atala membawa pulang kertas "oret-oretan" hasil gambarnya...atau membawa kertas yang dipenuhi tempelan-tempelan atala. Walaupun saya sudah beberapa kali katakan, bahwa atala tidak sekolah, tapi dimasukkan ke tempat penitipan anak, sepertinya ibu saya lebih suka mengatakan atala itu sekolah (terutama penjelasan untuk para tetangga dan saudara-saudara kami). Sepertinya konotasi tempat penitipan anak memang terlalu negatif, jadi mungkin ibu saya sebenarnya ada rasa malu juga untuk menyebut "tempat penitipan anak".
Tapi dari pemahaman ibu saya mengenai sekolah, dan dari daycare atala juga lha...saya disadarkan makna homeschool yang sebenarnya. bahwa yang dimaksud dengan belajar itu lebih dari sekedar belajar menggunting, menempel, dan mewarnai (dengan cara sekolah).
Setiap sore, saat saya datang menjemput atala (biasanya jam 5 sore), kami punya waktu bersama hingga satu jam, sampai ayahnya datang menjemput dari kantornya. Banyak sekali yang bisa kami lakukan bersama. selain memanfaatkan fasilitas daycare, seperti misalnya membaca buku bersama, biasanya atala akan mengajak saya untuk jalan-jalan keluar disekitarnya.
Daycare atala berada ditengah kota, dan ditengah-tengah kegiatan olahraga, Jadi kami berjalan-jalan dilapangan bola, naik-turun dikursi penonton, berlari-lari di lintasan lari yang penuh pasir, berjalan diatas rumput, menonton orang-orang panjat tebing...dan yang terindah (bagi saya), melihat matahari terbenam bersama orang yang kita sayangi (atala biasanya minta gendong). Saya rasa, sudah lama sekali saya tidak pernah menatap langit dikota, sampai anak saya mengingatkan saya. Anak kecil memang pengamat yang baik. Dia dengan cepat menangkap ada banyak burung yang berterbangan diatas sana. sibuk menunjuk dan kita pun mulai berhitung bersama, dan mengenal warna (warna langit, pohon, awan, dll.) Saya saja baru menyadari, ditengah kota jakarta yang penuh polusi ini, sebenarnya masih ada burung berterbangan diatas kepala kita. Bahwa, suara pesawat yang lewat pun ternyata terdengar sampai bawah. Bahwa, pohon-pohon di kota ternyata indah juga ya. Bahwa ternyata tidak perlu jauh-jauh ke gunung atau ke atas gedung tinggi, untuk melihat pemandangan Langit biru berhias awan dan gedung-gedung pencakar langit, diiringi beberapa burung gereja kecil yang sesekali terbang melintas.
Suatu hari, tiba-tiba saja atala menunjuk salah satu warna dicorak sofa yang ada disitu, dan berteriak "ijoooo", ternyata atala sudah mulai mengenal warna hijau. sampai dirumah, atala berlari ke ayahnya, dan menyerahkan bola berwarna hijau. "ijooo" katanya. lalu dia masuk lagi ke kamar, dan muncul lagi dengan mobil-mobilan berwarna hijau, "ijooo" katanya lagi. dan seterusnya. Sepertinya hari itu, menjadi hari besar bagi atala. "the day Atala discover green"
The Day Atala discover "green"
Setelah beberapa bulan mengetahui info mengenai homeschool, banyak hal yang bisa saya dapatkan. Saya menjadi begitu bersemangat untuk melakukan homeschool tapi terus terang, awal saya bersemangat untuk homeschool ternyata terkotak menjadi pengenalan angka, huruf, warna, dan bentuk pada anak saya, Atala (2tahun). tapi seiring dengan berjalannya waktu, pemahaman saya tentang homeschool semakin terbentuk, dan hasilnya luar biasa. Saat ini, segala sesuatu yang berkaitan dengan anak saya, menjadi begitu bermakna. Dengan adanya faham homeschool, setiap tingkah lakunya saya lihat sebagai pembelajaran dia sebagai manusia baru. setiap kebersamaan kami adalah pembelajaran. apapun yang dia lakukan adalah kegiatan belajar.
Sudah 5 bulan ini, atala saya titipkan di daycare. Disana disediakan mainan, buku, dan alat tulis buat anak-anak melakukan aktivitasnya sampai dijemput kembali oleh orangtua. Sifatnya informal, dan hanya mengisi waktu saja. Tapi mungkin itu sebabnya, ibu saya lebih suka mengatakan bahwa atala pergi ke sekolah. Mungkin karena ibu saya melihat atala membawa pulang kertas "oret-oretan" hasil gambarnya...atau membawa kertas yang dipenuhi tempelan-tempelan atala. Walaupun saya sudah beberapa kali katakan, bahwa atala tidak sekolah, tapi dimasukkan ke tempat penitipan anak, sepertinya ibu saya lebih suka mengatakan atala itu sekolah (terutama penjelasan untuk para tetangga dan saudara-saudara kami). Sepertinya konotasi tempat penitipan anak memang terlalu negatif, jadi mungkin ibu saya sebenarnya ada rasa malu juga untuk menyebut "tempat penitipan anak".
Tapi dari pemahaman ibu saya mengenai sekolah, dan dari daycare atala juga lha...saya disadarkan makna homeschool yang sebenarnya. bahwa yang dimaksud dengan belajar itu lebih dari sekedar belajar menggunting, menempel, dan mewarnai (dengan cara sekolah).
Setiap sore, saat saya datang menjemput atala (biasanya jam 5 sore), kami punya waktu bersama hingga satu jam, sampai ayahnya datang menjemput dari kantornya. Banyak sekali yang bisa kami lakukan bersama. selain memanfaatkan fasilitas daycare, seperti misalnya membaca buku bersama, biasanya atala akan mengajak saya untuk jalan-jalan keluar disekitarnya.
Daycare atala berada ditengah kota, dan ditengah-tengah kegiatan olahraga, Jadi kami berjalan-jalan dilapangan bola, naik-turun dikursi penonton, berlari-lari di lintasan lari yang penuh pasir, berjalan diatas rumput, menonton orang-orang panjat tebing...dan yang terindah (bagi saya), melihat matahari terbenam bersama orang yang kita sayangi (atala biasanya minta gendong). Saya rasa, sudah lama sekali saya tidak pernah menatap langit dikota, sampai anak saya mengingatkan saya. Anak kecil memang pengamat yang baik. Dia dengan cepat menangkap ada banyak burung yang berterbangan diatas sana. sibuk menunjuk dan kita pun mulai berhitung bersama, dan mengenal warna (warna langit, pohon, awan, dll.) Saya saja baru menyadari, ditengah kota jakarta yang penuh polusi ini, sebenarnya masih ada burung berterbangan diatas kepala kita. Bahwa, suara pesawat yang lewat pun ternyata terdengar sampai bawah. Bahwa, pohon-pohon di kota ternyata indah juga ya. Bahwa ternyata tidak perlu jauh-jauh ke gunung atau ke atas gedung tinggi, untuk melihat pemandangan Langit biru berhias awan dan gedung-gedung pencakar langit, diiringi beberapa burung gereja kecil yang sesekali terbang melintas.
Suatu hari, tiba-tiba saja atala menunjuk salah satu warna dicorak sofa yang ada disitu, dan berteriak "ijoooo", ternyata atala sudah mulai mengenal warna hijau. sampai dirumah, atala berlari ke ayahnya, dan menyerahkan bola berwarna hijau. "ijooo" katanya. lalu dia masuk lagi ke kamar, dan muncul lagi dengan mobil-mobilan berwarna hijau, "ijooo" katanya lagi. dan seterusnya. Sepertinya hari itu, menjadi hari besar bagi atala. "the day Atala discover green"







2 Comments:
Mbak,
saya boleh tau di mana ya tempat homeschool atau daycare
itu ya?
ari
Dulu di Pasar Festival Kuningan, ada Daycare Keenkids, tapi sekarang sudah tutup karena tergusur Bakrie School. Kalau daycare pusatnya ada di Apartemen Royal Park, diseberang JHCC (Jl. Gatot Subroto)
Post a Comment
<< Home